Empat Keutamaan Diam
Nabi saw. Bersabda:
“Sholat itu tiang agama,
sedang sikap diam itu lebih utama; Sedekah itu dapat memadamkan murka Tuhan,
sedang diam lebih utama; Puasa itu benteng neraka, sedang diam itu lebih utama;
Dan jihad itu adalah puncak agama, sedangkan diam itu lebih utama.”
Agama tidak akan berdiri tanpa sholat, seperti tidak akan berdiri sebuah rumah
tanpa disertai tiang-tiangnya. Sholat merupakan pernyataan sebenarnya dari
sifat kehambaan dan menunaikan hak keTuhanan. Sedang seluruh ibadah itu justru
merupakan sarana menuju substansi pengabdian yang sebenarnya tersebut. Tentang
diam itu lebih utama daripada sholat, dapat didasarkan pada sabda Nabi saw.:
“Diam adalah ibadah
tingkat tertinggi.” (HR. Ad-Dailami dari Abu Hurairah).
Yang dimaksud diam disini ialah tidak
mengucapkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk agama dan dunia, juga
tidak usah membantah orang yang menentang. Justru diam termasuk ibadah tingkat
tinggi, karena kebanyakan kesalahan-kesalahan itu timbul dari lisan. Karena
itu, jika orang hidup sendirian, maka diamnya tidak termasuk ibadah.
Diam lebih utama daripada sedekah,
Nabi bersabda:
“Diam itu hiasan bagi
orang alim dan penutup bagi orang bodoh.” (HR. Abusy Syekh dari Al-Mihrazi).
Diam dapat menambah kewibawaan yang
hal ini pertanda adanya ilmu. Sesungguhnya orang yang bodoh itu tidak akan
diketahui bodohnya, jika dia tidak berbicara.
Diam lebih utama daripada puasa,
sebagaimana sabda Nabi saw.:
“Diam adalah pimpinan
akhlak.” (HR. Ad-Dailami dari Anas).
Dari hadits tersebut dapat diambil
kesimpulan, bahwa diam dari perkara yang tidak ada pahalanya, adalah pimpinan
akhlak mulia, karena menyelamatkan pelakunya dari ghibah dan sebagainya. Adapun
memperbanyak melakukan perkara yang mendatangkan pahala, misalkan dzikir,
membaca Alqur’an dan ilmu, lebih utama daripada diam. Jihad itu adalah puncak
agama, namun diam lebih utama, yaitu yang paling tinggi nilainya jika dilihat.
Hal itu karena jihad bisa diketahui dari tempat jauh, seperti kuduk unta bisa
dilihat dari kejauhan. Nabi saw. Bersabda:
“Diam adalah hikmah,
namun sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Al-Qadhai dari Anas dan
Ad-Dailami, dari Ibnu Umar).
Diam itu hikmah dan tidak banyak yang
melaksanakannya, karena belum mengetahui hal itu. Memang, tidak banyak orang
yang mau diam diri dari mengemukakan hal-hal yang sesungguhnya menyebabkan
kehinaan dirinya sendiri. Dalam hal ini seorang penyair mengatakan dari bahar
Khalif:
Wahai, orang yang banyak
bicara tak berarti,
Kurangilah,
Sesungguhnya kau telah
menghamparkan omongan yang tak berarti dengan panjang dan lebar
Telah kau ambil bagian
Dari bidang kejelekan,
Maka diamlah kini
Jika kebaikan yang kau
kehendaki
Dalam hadits lain, ada diriwayatkan
Nabi bersabda:
“Jihad yang paling utama
adalah memerangi hawa nafsu serta keinginanmu, karena Zat Allah (semata-mata
karena Allah.” (HR. Ad-Dailami).
(Dikutip dari buku: “Nasihat Bagi
Hamba Allah – Terjemah Nashaihul Ibad”, Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar
Al-Jawi, Hal 76).
Keutamaan Diam
Nabi SAW, bersabda :
الصلا ة عما دالدين والصمت افضل , والصدقة تطفىء غضب الرب والصمت افضل ,
والصوم جنة من النار والصمت افضل
, والجهادسنا م الدين والصمت افضل
“Shalat itu tiang Agama, sedang sikap diam itu lebih utama, sedekah itu
dapat memadamkan murka Tuhan, sedang diam lebih utama, Puasa itu benteng
neraka, sedang diam itu lebih utama, dan jihad itu adalah puncak Agama,
sedangkan diam itu lebih utama.”
Hadist di atas menjelaskan bahwa , Agama tidak akan berdiri tanpa Shalat,
seperti tidak akan berdiri sebuah rumah tanpa disertai tiang – tiangnya. Shalat
merupakan pernyataan sebenarnya dari sifat kehambaan dan menunaikan hak
ketuhanan. Sedang seluruh ibadah itu justru merupakan sarana menuju subtansi
pengabdian yang sebenarnya tersebut. Tentang diam itu lebih utama daripada
Shalat, dapat didasarkan pada sabda Nabi SAW :
(الصمت ارفع العبادة ( رواه
الديلمى عن ابى هريرة
“Diam adalah ibadah tingkat tinggi.” (H.R. Ad-Dailami dari Abu Hurairah).
Yang dimaksud diam di sini ialah tidak mengucapkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat
munurut agama dan dunia, juga tidak usah membantah orang yang menentang. Justru
diam termasuk ibadah tingkat tinggi, karena kebanyakan kesalahan – kesalahan
itu timbul dari lisan. Maka dari itu, barang siapa yang memelihara ucapannya,
maka dia selamat di dunia dan akhirat.
من حفظ اللسان سلم فى
الدنيا والاخرة
Selain itu, Nabi Muhammad SAW bersabda :
(احب الاعمال الى الله تعالى حفظ
اللسان (رواه البيهقى
"Amal (perbuatan) yang paling disukai Allah, Adalah memelihara
lisan" (H.R. Baihaqi)
Karena itu, jika orang hidup sendirian, maka diamnya tidak termasuk ibadah.
Diam lebih utama daripada sedekah, Nabi Muhammad SAW bersabda :
(الصمت زين للعالم وسترللجاهل
(رواه ابوالشيخ عن المحرز
“Diam itu hiasan bagi orang alim dan penutup bagi orang bodoh.” (H.R. Abusy
Syekh dari Al-Mihrazi).
Diam dapat menambah kewibawaan yang hal ini pertanda adanya ilmu. Sesungguhnya
orang yang bodoh itu tidak akan diketahui bodohnya, jika dia tidak berbicara.
Diam lebih utama daripada puasa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
(الصمت سيدالاخلاق (رواه الديلمى
عن انس رضى الله عنه
“Diam adalah pimpinan akhlak.”
Dari hadist tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa diam dari perkara yang
tidak ada pahalanya, adalah pimpinan akhlak mulia, karena menyelamatkan
pelakunya dari ghibah dan sebagainya. Adapun memperbanyak melakukan perkara
yang mendatangkan pahala, misalnya dzikir, membaca Al-Qur’an dan ilmu, lebih
utama daripada diam. Jihad itu adalah puncak Agama, namun diam lebih utama,
yaitu yang paling tinggi nilainya jika dilihat.
Nabi SAW bersabda :
(الصمت حكم وقليل فاعله (رواه
القضاعى عن انس والديلمى
“Diam adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.” (H.R.
Al-Qadhai dari Anas dan Ad-Dailami, dari Ibnu Umar)
Diam itu hikmah dan tidak banyak yang melaksanakannya, karena belum mengetahui
hal itu. Memang, tidak banyak orang yang mau diam diri dari mengemukakan hal –
hal yang sesungguhnya menyebabkan kehinaan dirinya sendiri.